Benci atau
Menghargai?
-
Hatespeech atau ujaran kebencian sering kita dengar
belakangan ini, seiring sebentar lagi menuju pemilu 2019. Sekarang sudah banyak
kubu kubu yang mendeklarasikan timnya sebagai salah satu pendukung capres ataupun
caleg untuk pemilu 2019. Semakin menuju ke tahun politik ini masyarakat kita
seakan dikotak kotakan menjadi beberapa kubu, seperti contoh yang sering aku
lihat adalah perang tagar (# hashtag) di media sosial, dimana dari masing
masing anggota ini sering beragumen siapa yang salah dan siapa yang benar.
Sehingga dampak dari perbedaan ini hanyalah saling membenci satu sama lain,
mencari-cari kesalahan hingga tidak mau menghargai pihak lain. Kalau menurutku
sendiri ini bukan masah tagar, tapi masalah sikap dari setiap gerakan tersebut.
Sebelum lanjut, dari hal ini aku ingin sedikit
membahas apasih bahaya dari sifat benci itu? Kenapa kita tidak saling
menghargai? Lalu pilih benci atau menghargai? Tentu saja aku tidak akan memihak
salah satu kelompok atau golongan. Dan akan membahasnya sesuai ilmu yang aku
peroleh secara netral, okee!! Siapapun pilihanmu itu yaa terserah.
Apasih sifat benci itu? Berikut penjelasannya,.
Benci menurut Ilmu Psikologi, Sigmund Freud
mendefinisikan benci sebagai pernyataan ego (ke-akuan) yang ingin menghancurkan
sumber-sumber ketidakbahagiaannya. Nah dari penjelasan tersebut, bahwa sifat
benci itu berasal dari pernyataan ego yang tidak puas terhadap sumber sumber
yang membuat seseorang itu tidak bahagia dan berusaha menyingkirkannya. Benci
menurut aliran Psikoanalis lebih bersifat agresif atau bersifat menyakiti.
Misalnya: ketika disekolah, kemudian ada satu teman kita yang sering nakal
berusaha jailin kita setiap hari, sehingga membuat kita tidak nyaman saat
dikelas. Saat itu pasti kita ingin teman yang nakal itu pergi dan tidak masuk
kelas kita lagi. Tentu saja dengan usaha usaha yang bersifat mengancurkannya,
seperti kita juga nakal padanya atau kita malah lebih nakal daripada dia. Nah
saat itu kita merasa benci pada teman tersebut.
Freud juga menjelaskan bahwa setiap manusia
mempunyai sistem pertahanan diri (self
defense mechanism) masing-masing. Salah satunya adalah Proyeksi, proyeksi ini berkaitan juga dengan sifat benci seseorang.
Penjelasan mengenai Proyeksi sendiri yaitu melihat dorongan atau perasaan orang
lain yang tidak dapat diterima, padahal sebenarnya perasaan atau dorongan
tersebut ada di alam tidak sadar dari diri sendiri. Saat kita benci pada si A,
secara otomatis dalam diri kita akan mencari kesalahan dari si A. Kemudian
menganggap apa yang dilakukan oleh si A itu salah, si A adalah pembohong,
penakut, anarkis dan sifat buruk lainnya yang disematkan pada si A. Tanpa
disadari, ternyata anggapan itu juga ada didalam diri kita sendiri, dan
ternyata kita sendiri lah yang mempunyai sifat buruk tersebut tanpa disadari.
Maka dari itu proyeksi adalah salah satu sistem pertahanan dari sang pembenci.
Selanjutnya menurut teori belajar, teori ini
menyatakan bahwa agresi diperoleh melalui berbagai mekanisme yanng sama seperti
semua perilaku. Teori belajar Klasik menyatakan bahwa emosi yang penuh
kebencian merupakan respon – respon yang terkondisi. Sementara teori belajar Operant
menekankan peran dari penguatan dan hukuman dalam membentuk agresivitas yang
dipelajari. Teori belajar sosial menggabungkannya dengan menyatakan bahwa
perilaku benci merupakan hasil dari modeling, observasi, imitasi, dan vicariously reinforced (sangat
dibesarkan). Yang paling berbahaya dari benci yaitu perilaku ini merupakan
hasil dari modelling atau dengan cara meniru perilaku dari seseorang yang
sering kita lihat baik secara langsung maupun melalui media lain.
Memang benar bahwa jika perilaku benci memperoleh
penguatan, entah karena itu dapat menarik perhatian, entah karena membangkitkan
pujian dari orang lain, atau karena menguntungkan material, maka orang itu akan
terus bertindak dengan cara bermusuhan. Pada kenyataan, sebenarnya agresi dapat
semakin kuat.
Oke, kembali ke pokok permasalahannya, kenapa aku
membuat tulisan ini. Yaitu karena akhir-akhir ini aku sering sekali buka buka
facebook, dan aku sering menemukan postingan-postingan dari temanku sendiri
yang hampir setiap menit dia itu membagikan berita-berita yang isinya kebencian
terhadap salah satu pihak, postingan amarah, dan bernuansa syarat gerakan
politik. Dari hal itu aku tidak mempermasalahkan isi beritanya, tetapi yang aku
masalahkan cara dia yang membenci salah satu pihak, kemudian dengan satu jalan
mempostingan segala macam berita yang berisi kebencian terhadap salah satu
pihak itu. Dan dia itu memposting tanpa tahu sumbernya itu dari mana, apakah
beritanya benar atau hoax? Apakah
dari akun yang terpercaya? Bukankah saat kita sekolah, ketika kita diberi tugas
membuat laporan, laporan tersebut harus jelas sumbernya?. Seperti yang
dijelaskan tadi, apabila kebencian ini mendapat penguatan maka kebencian ini
akan semakin kuat. Sebagai contoh, apabila si A memposting kebencian difacebook
lalu memperoleh like dan komen yang banyak, maka si A tersebut memperoleh
penghargaan dari orang lain, dan akan memotivasi si A tersebut untuk memposting
kembali hal hal yang berbau kebencian. Yang paling bahaya selanjutnya adalah
para pengguna facebook lain yang tidak sengaja membaca berita kebencian tadi,
sehingga pengguna lain jadi ikut ikut benci pada satu pihak. Padahal belum
diketahui kebenaran dari berita tersebut. Yang aku takutkan adalah kedepannya
generasi kita akan mudah mengadu domba dan saling menyalahkan satu sama lain,
tanpa tau kebenaran yang terjadi.
Masalah ini terus membuat aku berfikir “kenapa kita
harus benci?” Padahal kita bisa saling menghargai. Kalau benci itu hanya
membuat permusuhan antar masyarakat, kenapa harus benci?. Kalau belum masanya
yaudah tidak perlu benci, tidak usah ngotot untuk ganti. Toh, setiap manusia
punya waktunya sendiri, pas kita sekolah, pasti ada wakunya untuk lulus. Setiap
manusia juga akan mati, kalau belum waktunya, terus mau apa?. Mau mendahului
takdir?. Benci bukanlah solusi.
Alangkah baiknya, jika semua sifat benci yang
ada didalam diri kita ini diubah menjadi perilaku yang bermanfaat dan kreatif.
Kita salurkan emosi negatif ini menjadi emosi yang baik. Bisa melalui tindakan
maupun tulisan. Bisa lah kita menyumbangkan sedikit rejeki kita untuk
orang-orang yang membutuhkan, bisa melalui yayasan, lembaga atau mandiri.
Misalnya mulai membuat tulisan yang bermanfaat dari ilmu yang telah kita
peroleh sewaktu sekolah atau kuliah. Membuat video edukasi. Memposting status
yang informatif. Misalnya lagi ikut gerakan sosial masyarakat. Niscaya itu
semua lebih bermanfaat. Daripada harus buang buang uang untuk hal yang sifatnya
menebar benci, atau buang tenaga hanya untuk tindakan yang dapat menimbulkan permusuhan
dan perpecahan antar masyarakat. Sejatinya negara kita adalah negara kesatuan
yang tak bisa dipecah belah oleh elemen apapun. Jika diawal tahun saja kita
diberi pelajaran untuk saling bertoleransi antar umat beragama. Lalu apakah
kita tidak bisa untuk menghargai sebuah pendapat?.


























